Kepala
sekolah sudah sekian kali mengikuti pelatihan, kini guru-guru mengikuti
pelatihan, buku untuk guru dan siswa disediakan, 2014 tinggal go
kurikulum 2013, semoga hasilnya pendidikan lebih bermutu, anak didik
yang cerdas, berpengathuan luas, berkarakter terpuji, terampil dan mampu
bersaing.
Sabtu, 21 Juni 2014
Sabtu, 23 November 2013
Pembelajaran dengan pendekatan Saintifik dengan strategi Project base learning untuk mata pelajaran Parkarya dan Kewirausahaan, yaitu dengan membuat ketrampilan secara berkelompok. Ada yang memuat asesoris, kue atau makanan ringan. Selanjutnya siswa dalam kelompok itu mencoba menawarkan hasil karyanya kepada konsumen teman diskeolahnya khususnya untuk produk makanan, menawarkan kepada masyarakat umum untuk produk asesoris. Dalam kegiatan tersebut pengalaman belajar yang di harapkan adalah kerjasama, gotong royong, trampil membuat suatu produk, trampil memasarkan produk yang telah dinuatnya.
Tanggal 23 Nopember 2013 kelas X MM, X BC, XPM2 SMK Negeri 4 Jember sebanyak 114 siswa mengadakan kegiatan observasi dan wawancara ke Home Industri Batik "Rolla" di jalan Mawar Kab Jember. Tujuan pembelajaran adalah setelah mengamati proses produklsi dan sumber daya yang terdiri dari 6M (Man, Money, Material, Machine, Methode dan Market) siswa dapat memahami, menghayati, peduli dan mencintai produk dilingkungan tempat tinggalnya, dalam hal ini produk batik tersebut.
Kurikulum
2013 masih serba belum pasti dan berubah tiba-tiba misal struktur
kurikulum, silabus, Rapot. Padahal semester pertama sudah kurang dua
minggu lagi habis. Ya memang namanya masih uji coba jadi belum ada
keputusan yang ditandatangani pak menteri secara pasti. Banyak sekali
dokumen kurikulum berbagai versi yang diperoleh teman-teman entah yang
mana yang dianggap benar, masih bingung. Katanya sementara ini ambil
saja yang dari PSMK benarkah. Yang jelas kami sudah melaksanakan
kurikulum 2013 dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Kamis, 31 Oktober 2013
Waduh
4 hari ini senin 28 Oktober sampai dengan kamis 31 Oktober 2013 kelas-kelas di Beberapa sekolah di Jember banyak yang kosong tidak ada gurunya karena
ikut diklat yang diselenggarakan Dinas Pendidikan secara berbarengan. Masing-masing sekolah rata-rata 4 orang peserta, mereka adalah guru Matematika,
Bhs Indonesia, Bhs Inggris, Akuntansi, Pemasaran, yang tergabung dalam
MGMP ya ada yang memberi tugas ada juga yang tidak memberi tugas. Hal tersebut tidak akan terjadi bila pembuatan jadwal oleh Dinas pendidikan tidak bersamaan seperti itu. Entah apa alasannya yang jelas sudah berjalan. Kepala sekolah harus mengerahkan Guru
piket, guru yang tersisa disekolah, Mahasiswa PPL, Kepala sekolah sendiri, semua
mengisi kelas-kelas yang kosong semaksimal mungkin.
Salut pada Agung kelas XII Broadcast SMKN 4 setelah
melaksanakan Prakerin di Jember 1 TV tahun lalu, langsung direkrut
menjadi karyawan disana paruh waktu. Setelah pulang sekolah dia bekerja
bagian shooting film untuk Program acara, Gajinya untuk bayar SPP dan
sebagian ditabung untuk kuliah kalau sudah lulus SMK nya. Ingat harus
tetap belajar agar bisa lulus dengan nilai bagus ya nak.
Jumat, 02 Agustus 2013
DI
JEMBER, Perguruan Tinggi Negeri tertentu, di SD Negeri paforit
tertentu, di TK paforit tertentu, menarik biaya sekolah diawal tahun
pembelajaran berapapun besarnya dan harus kontan dalam jangka waktu
naksimal 2-3 hari, itu sudah biasa, tidak ada yang ribut.
Beda sekali dengan di setingkat SMP dan terutama SMA/SMK menarik biaya sekolah itu susah sekali dan selalu saja ribut. Orang tua, kelompok masyarakat tertentu, media massa, anggota DPR, Pejabat terkait, semua mengerubut sekolah, bila misalnya ada satu dua kasus siwa atau orang tua dipublikasikan dengan judul seakan akan menghebohkan. heboh dah jadinya. Memang sih ada sekolah yang sedikit lebih tinggi penetapan biaya, tetapi biasanya memang ada program sekolah yang beda atau lebih baik dari sekolah lain.
Ketika orang tua datang kesekolah selalu alasan tidak mampu, anaknya juga sekolah di SD tertentu, di SMP tertentu atau masuk Perguruan tinggi tertentu, sekolah juga memberi toleransi padahal lembaga apapun untuk bisa menjalankan tugasnya pasti memerlukan hal yang sama paling tidak Man, Money, Matrial.
Beda sekali dengan di setingkat SMP dan terutama SMA/SMK menarik biaya sekolah itu susah sekali dan selalu saja ribut. Orang tua, kelompok masyarakat tertentu, media massa, anggota DPR, Pejabat terkait, semua mengerubut sekolah, bila misalnya ada satu dua kasus siwa atau orang tua dipublikasikan dengan judul seakan akan menghebohkan. heboh dah jadinya. Memang sih ada sekolah yang sedikit lebih tinggi penetapan biaya, tetapi biasanya memang ada program sekolah yang beda atau lebih baik dari sekolah lain.
Ketika orang tua datang kesekolah selalu alasan tidak mampu, anaknya juga sekolah di SD tertentu, di SMP tertentu atau masuk Perguruan tinggi tertentu, sekolah juga memberi toleransi padahal lembaga apapun untuk bisa menjalankan tugasnya pasti memerlukan hal yang sama paling tidak Man, Money, Matrial.
Langganan:
Postingan (Atom)


